Salah satu Surat dalam buku Surat Untuk Perbatasan

Posted On July 7, 2012

Filed under story

Comments Dropped leave a response


Gambar

Untuk teman-temanku sebangsa setanah air.

Bagaimana Kabar kalian? Mungkin kalian bingung kenapa tiba-tiba mendapat surat ini.
surat ini merupakan salah satu surat yang dikirim dari teman-teman kalian yang peduli dengan kalian.

Ada hal yang ingin saya sampaikan untukmu,,,

cerita yang membuat saya termotivasi..

jika di sebuah ladang yang subur, terdapat 2 buah bibit tanaman yang terhampar. Bibit yang pertama berkata, “Aku ingin tumbuh besar. Aku ingin menjejakkan akarku sangat dalam di tanah ini, dan menjulangkan tunas-tunasku di atas kerasnya tanah ini. Aku ingin membentangkan semua tunasku, untuk menyampaikan salam musim semi. Aku ingin merasakan kehangatan matahari, serta kelembutan embun pagi di pucuk-pucuk daunku.”

Dan bibit yang pertama inipun tumbuh, makin menjulang.

Bibit yang kedua bergumam. “Aku takut. Jika kutanamkan akarku ke dalam tanah ini, aku tak tahu, apa yang akan kutemui di bawah sana. Bukankah disana sangat gelap? Dan jika kuteroboskan tunasku keatas, bukankah nanti keindahan tunas-tunasku akan hilang? Tunasku ini pasti akan terkoyak. Apa yang akan terjadi jika tunasku terbuka, dan siput-siput mencoba untuk memakannya? Dan pasti, jika aku tumbuh dan merekah, semua anak kecil akan berusaha untuk mencabutku dari tanah. Tidak, akan lebih baik jika aku menunggu sampai semuanya aman.”

Dan bibit itupun menunggu, dalam kesendirian.

Beberapa pekan kemudian, seekor ayam mengais tanah itu, menemukan bibit yang kedua tadi, dan memakannya segera.

***

Teman, memang, selalu saja ada pilihan dalam hidup. Selalu saja ada lakon-lakon yang harus kita jalani. Namun, seringkali kita berada dalam kepesimisan, kengerian, keraguan, dan kebimbangan-kebimbangan yang kita ciptakan sendiri. Kita kerap terbuai dengan alasan-alasan untuk tak mau melangkah, tak mau menatap hidup. Karena hidup adalah pilihan, maka, hadapilah itu dengan gagah. Dan karena hidup adalah pilihan, maka, pilihlah dengan bijak.

Sahabat, tiap pilihan selalu ada resiko yang mengiringinya. Namun jangan sampai ketakutan, keraguan dan kebimbangan, menghentikan langkah kita.

Tersenyumlah wahai sahabat, tersenyumlah untuk dirimu sendiri, dan lihatlah keluar.

Ini bukan berlatih agar tampak cantik, tampan atau menarik. Sama sekali bukan.

Ini adalah bagaimana kamu bisa menerima diri anda sendiri

Jika kita bisa menghargai diri sendiri, kita dapat memandang diri secara positif.

Apabila kita memiliki pandangan positif, kita bisa melihat kelemahan kita sebagai suatu kesempatan memperbaiki dan mengembangkan diri.
Kita juga melihat kekuatan kita sebagai anugerah yang dapat kita manfaatkan untuk berbagi dengan orang-orang di sekitar kita.

Dengan demikian, kita bisa membuat diri kita berharga dan berguna bagi lingkungan kita dan orang-orang di sekitar kita.

Kita juga perlu belajar dari orang lain yang bisa menjadi teladan kita, dan bekerja sama dengan orang lain yang memiliki pengalaman dan pengetahuan yang lebih dalam dari kita. Jadi kuncinya adalah kerendahan hati untuk meminta bantuan orang lain untuk pengembangan diri kita.
Langkah pertama untuk sukses adalah menghargai diri sendiri. Hanya dengan demikianlah kita bisa mengetahui bagaimana menghargai orang lain.

Satu-satunya orang yang akan menghabiskan seluruh hidup bersama anda adalah diri kamu sendiri, jadi jika kamu ingin bahagia seumur hidup, waktu kamu untuk menghargai diri sendiri adalah saat ini, dan Tersenyum pada diri sendiri, sudahkah anda tersenyum untuk diri anda sendiri?

Semangat ya teman-teman, Raihlah cita-citamu setinggi langit, karena di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin jika kita ada Niat + Usaha + Doa. maka dari itu, berusahalah yang terbaik untuk masa depanmu.. ^_^

ps. “Bukalah setiap pintu kesempatan yang datang mengetuk, sebab, siapa tahu, pintu itu tak mengetuk dua kali.” (Hilman, Lupus I)

 

Depok, 3 Juni 2011

Herina Chorni Utami

Mahasiswi Ilmu Kesejahteraan Sosial

Fakultas Ilmu Sosial Politik

Universitas Indonesia
*Tulisan ini adalah permintaan teman untuk mengisi buku yang berjudul “Surat Untuk Perbatasan”
walaupun, aku tidak ikut K2N tapi aku diminta untuk mengisi alias untuk memeriahkan saja >_<

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s