Data & Fakta Konsumsi Rokok Di Indonesia

Posted On April 8, 2010

Filed under healthy

Comments Dropped leave a response


Rokok merupakan benda yang sudah tak asing lagi bagi kita. Merokok sudah menjadi kebiasaan yang sangat umum dan meluas di masyarakat. Bahaya merokok terhadap kesehatan tubuh telah diteliti dan dibuktikan banyak orang. Kebiasaan merokok memang sulit dihilangkan dan jarang diakui orang sebagai suatu kebiasaan buruk. Padahal efek-efek yang merugikan akibat merokok sudah diketahui dengan jelas.
Indonesia sebagai salah satu negara terpadat di dunia pasti memiliki cerita tersendiri mengenai benda satu ini. Karena sebagian orang Indonesia menganggap rokok merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi setiap hari. Nah, berikut ini kami menjelaskan data dan fakta mengenai konsumsi rokok di negara tercinta kita ini.

Konsumsi Tembakau

* Indonesia salah satu negara konsumen tembakau terbesar di dunia. Indonesia menempati urutan kelima di antara negara-negara dengan tingkat agregat konsumsi tembakau tertinggi di dunia.
* Indonesia mengalami peningkatan tajam konsumsi tembakau dalam 30 tahun terakhir: dari 33 milyar batang per tahun di tahun 1970 ke 217 milyar batang di tahun 2000. Antara tahun 1970 dan 1980, Konsumsi meningkat sebesar 159 %. Faktor-faktor yang ikut berperan adalah iklim ekonomi yang positif dan mekanisasi produksi rokok di tahun 1974.
* Antara tahun 1990 dan 2000, peningkatan lebih jauh sebesar 54% terjadi dalam konsumsi tembakau – walaupun terjadi krisis ekonomi.

Prevalensi Merokok

* Hampir satu dari tiga orang dewasa merokok. Prevalensi merokok di kalangan orang dewasa meningkat ke 31,5% pada tahun 2001 dari 26,9 % pada tahun 1995 Lebih dari 6 dari 10 pria merokok, namun sedikit wanita yang merokok. Pada tahun 2001, 62,2% dari pria dewasa merokok, dibandingkan dengan 53,4 % pada tahun 1995. Hanya 1,3% wanita dilaporkan merokok secara teratur pada tahun 2001.
* Lebih banyak pria di pedesaan yang merokok. Prevalensi merokok di kalangan pria dewasa di pedesaan adalah 67,0 % dibandingkan dengan 58,3 % di perkotaan. 73% pria tanpa pendidikan formal merokok. Lebih dari 7 dari 10 (73%) pria tanpa pendidikan formal merokok, dibandingkan dengan 44,2% pada mereka yang tamat SLTA.
* Pria berpenghasilan rendah prevalensi lebih tinggi namun konsumsi lebih rendah. Makin rendah penghasilan, makin tinggi prevalensi merokoknya. Sebanyak 62,9% pria berpenghasilan rendah merokok secara teratur dibandingkan dengan 57,4% pada pria berpenghasilan tinggi. Namun pendidikan yang lebih tinggi berarti konsumsi yang lebih tinggi pula. Pria berpenghasilan tinggi merokok sekitar 12,4 batang per hari dibandingkan dengan 10,2 batang pada pria berpenghasilan rendah.

Umur Mulai Merokok

* Sebagian besar (68,8%) perokok mulai merokok sebelum umur 19 tahun, saat masih anak-anak atau remaja. Rata-rata umur mulai merokok yang semula 18,8 tahun pada tahun 1995 menurun ke 18,4 tahun pada tahun 2001.
* Prevalensi pria perokok meningkat cepat setelah umur 10 sampai 14 tahun.
* Prevalensi merokok pada pria meningkat cepat seiring dengan bertambahnya umur: dari 0,7% (10-14 tahun), ke 24,2 % (15-19 tahun), melonjak ke 60,1 % (20-24 tahun).
* Remaja pria umur 15-19 tahun mengalami peningkatan konsumsi sebesar 65% antara 1995 dan 2001 – lebih tinggi dari kelompok lain manapun.

Paparan asap tembakau lingkungan atau perokok pasif

* Lebih dari 43 juta anak terpapar asap tembakau pasif atau asap tembakau lingkungan (ETS). Lebih dari setengah (57%) rumah tangga mempunyai sedikitnya satu perokok dalam rumah dan hampir semuanya (91.8%) merokok di dalam rumah. Diperkirakan bahwa lebih dari 43 juta anak tinggal bersama dengan perokok dan terpapar pada asap tembakau pasif atau asap tembakau lingkungan (ETS).
* ETS menyebabkan kanker. Bayi dan anak yang terpapar ETS mengalami peningkatan resiko terkena bronkitis, pneumonia, infeksi telinga, serta perlambatan pertumbuhan paru-paru. Orang dewasa bukan perokok yang terus menerus terpapar ETS mengalami peningkatan resiko kanker paru dan jenis kanker lainnya.

data : depkes RI

Facts about Friends

Posted On April 6, 2010

Filed under friendship, mixed

Comments Dropped leave a response


(1) Facts about friends: 50% of them know you and like you coz of the favors you do for them.

(2) Facts about friends: 30% of them have seen you at your best.

(3) Facts about friends: 15% of them share your pain

(4) Facts about friends: Only 5% knows the real story of your entire life

Justesentiments

manajemen Stress

Posted On April 3, 2010

Filed under healthy

Comments Dropped one response


Dalam setiap kehidupan, manusia selalu di hadapkan pada persoalan-persoalan yang membebani pikirannya. Tekanan-tekanan yang diakibatkan oleh masalah tersebut menyebabkan setiap orang tidak dapat melakukan aktivitas sebagaimana mestinya. Tekanan ini bisa saja datang dari lingkungan keluarga, teman, pekerjaan, maupun masyarakat sekitar. Tekanan yang dialami oleh manusia disebut sebagai stress. Stress dibutuhkan dalam kehidupan manusia sehari-hari. Ia merupakan kekuatan motivasi yang konstruktif dibelakang kreativitas dan prestasi dibidang bisnis, ilmiah, seni, olahraga, dan berbagai bidang lain.

Secara sederhana stress didefinisikan sebagai respons kebutuhan terhadap berbagai tuntutan lingkungan. Efek stress dapat positif dan negatif. Artinya, bila stress itu membangkitkan motivasi atau gairah untk mencapai suatu keberhasilan maka ia disebut sebagai stress positif atau eustress. Sebaliknya kalau stress itu sangat tidak menyenangkan bahkan destruktif, dialami untuk waktu yang lama dan terasa sangat berat, ini disebut distress.

Ada beberapa jenis stress yang dialami oleh manusia yaitu:
Stress Fisik misalnya: dingin, panas, bising, kemacetan lalu lintas, jalan rusak, dan polusi
Stress Sosial misalnya: Karyawan di PHK,inflasi, keadaan negara yang kacau balau.
Stress Keluarga, misalnya: kehidupan seksual yang tidak pas, kecemburuan yang berlebihan, perubahan gaya hidup.
Stress Kerja, misalnya: komunikasi tidak jalan, kompetisi, mutasi, ketidakjelasan karier, kebingungan peran dalam pekerjaan.
Stress hubungan antar manusia dan lingkungan, misalnya harapan sosial yang tidak sampai, lingkungan yang tidak aman, beda budaya, lingkungan kotor dan tidak sehat.
Stress Psikologis, misalnya frustasi, tekanan, kecemasan, kekhawatiran, ketakutan, dan konflik.

Reaksi terhadap stress sebenarnya merupakan reaksi berantai berupa perubahan-perubahan didalam tubuh yaitu perubahan-perubahan pada pernafasan (menjadi pendek dan cepat), denyut jantung (makin cepat), tekanan darah (meningkat), dll. Sebenarnya manusia tidak dapat hidup tanpa stress karena stress diperlukan untuk menghidupkan motor manusia, meningkatkan kewaspadaan, memperkuat otot dan memperkecil waktu reaksi. Reaksi yang “baik” terhadap stres ditandai oleh kemampuan menghadapi stres tanpa menjadi sangat emosional. Namun sebaliknya bila stres itu dibiarkan lama dalam tubuh maka makin lama makin berat, dan menimbulkan efek negatif dari stres seperti bentuk prilaku buruk, cepat naik darah, kebiasaan makan, minum, merokok yang buruk dll.

Tanda-tanda Stres

Stres yang dialami oleh setiap individu berbeda-beda, namun selama stres ini dibiarkan berkepanjangan dan makin lama makin kuat, kita tidak akan terganggu olehnya. Oleh karena itu, bagaimana kita dapat mendeteksi tanda-tanda yang dialami oleh seseorang jika mengalami stres?
Tanda-tanda Fisik misalnya perubahan ritme nafas, ketegangan dan ngilu otot, pusing, keringat berlebihan, tangan dan kaki dingin, perubahan nafsu makan, gangguan perut, sakit/nyeri lambung.

Tanda-tanda Mental misalnya sukar berkonsentrasi, banyak membuat kesalahan, lupa, kecendrungan untuk bereaksi berlebihan, dan penilaian yang memburuk,

Tanda-tanda Emosional misalnya, cepat naik darah, mudah tersinggung, gugup, depresi, atau tak maupun bicara ataupun sering menangis.

Tanda-tanda Prilaku misalnya, tak dapat tidur, kebiasaan makan dan minum yang berubah, malas, tidak teliti, dan perubahan dalam hubungan seksual.
Hubungan antara stres,kepribadian, dan penyakit.

Stres berlebihan dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan berbagai penyakit fisik serta gangguan psikologis seperti depresi. Berdasarkan penelitian bahwa telah terbukti stres memiliki hubungan dengan penyakit-penyakit tertentu. Selain tiu juga, di temukan bahwa situasi dianggap mengandung stres atau tidak sangat tergantung pada masing-masing orang. Dengan 2 asumsi ini dapat dipertanyakan apakah ada tipe kepribadian tertentu yang lebih rentan terhadap stres.

Friedman dan Rosenman (1974) mengadakan riset tentang kepribadian tipe A dan tipe B dan menemukan hubungan diantara tipe kepribadian dengan penyakit jatung korener. Mereka menemukan bahwa orang-orang dengan tipe A yang ditandai oleh perilaku keterikatan waktu, persaingan, tidak sabar, ambisius, ini ternyata mudah mengalami stres dan berpeluang lebih besar untuk mengidap penyakit tertentu termasuk penyakit jantung koroner.
Sebaliknya tipe B memiliki ciri-ciri perilaku yang cenderung santai, tidak terbelenggu waktu, lebih sabar, mereka tidak rentan terhadap stres dan penyakit-penyakit diatas termasuk jantung koroner.

Cara-cara Mengelola Stres

a. Menyadari apa yang menyebabkan kita stres merupakan usaha awal yang terbaik
b. Menganalisa dan menanggulagi stress
c. Olahraga
d. Makanan yang sehat
e. Relaksasi dan Meditasi
f. Berusaha untuk istirahat sejenak dikala bekerja
g. Memperkuat keyakinan kepada Yang Maha Kuasa