dedaunan

Posted On July 17, 2009

Filed under flowers

Comments Dropped leave a response


daun

Beberapa insan menganggap hidupnya penuh keindahan, tak jarang yang
menganggap hidupnya penuh kesulitan. Karna setiap cerita dari keseharian
mereka berbeda, setiap pesan yang dibawakan tak pernah sama. Hanya satu
yang sama dan menjadi media satu – satunya, kehidupan. Menyenangkan dan
sungguh menyenangkan ketika kehidupan kiranya menjadi sangat membahagiakan. Tentunya harapan manusia kehidupan itu tak akan pernah berakhir, tak akan pernah berubah dan ia tinggalkan. Semestinya insan bersyukur ketika mendapati hidupnya penuh kemudahan dan kebahagiaan seperti kutuliskan.

Namun juga tak sedikit yang mengeluhkan hidupnya penuh kesulitan. Mereka yang mengutuk hidup ini kejam, tidak adil, dan menyengsarakan, bahkan mengasumsikan bahwa Allah telah pilih kasih terhadap hamba-Nya. Bukan perubahan yang kan membawa mereka pada kehidupan lebih baik dari sebelumnya ketika itu dilakukan, melainkan dosa yang mereka pasti dapatkan. Itu awam. Itu, tak perlu berpendidikan demi mengetahuinya. Karna mengeluhkan kehidupan sama halnya dengan mengutuk dan mengkritik apa yang Allah berikan.

Terkadang, aku berada pada kedua perilaku diatas. Dalam masa waktu tertentu aku merasa bahagia ketika tau dan sadar bahwa banyak teman, kerabat serta keluarga yang sayang dan siap membantu ketika persoalan kian menyempitkan. Ketika itu aku merasa bahagia dan berkata, “hidup sebenarnya indah, jika aku bisa melihat dari sisi yang positif dan menyenangkan”.

Dalam masa waktu yang berlainan aku merasa hidup begitu penuh dengan kesulitan. “Life is so heavy”, ucapku ketika dihadapkan pada persoalan yang mewarnai dan mengisi keseharian. Banyak hal yang membuat ucapan itu kian terucap. Merasa ditinggalkan, diakhirkan, dan dinantikan. Entah itu sebuah keluhan atau sekedar asumsi instant terhadap situasi yang dialami. Pada akhirnya, aku hanya merasa tidak enak dan malu di hati sudah mengatakannya.

Aku mengingat masih dapat makan ketika yang lain kelaparan. Aku masih tidur diatas kasur busa ketika lainnya tidur beralaskan kertas koran. Aku masih melihat ada kebaikan diantara perbedaan keadaan. Aku menjadi aku sepenuhnya ketika melewati satu demi satu rintangan berkedok tantangan.

Maka tahulah dan tahu bagaimana aku harus menyikapinya. Betapa apa yang kulakukan tak akan pernah sempurna dan diridhoi oleh-Nya jika ada saja yang kukutuk serta hinakan.

Suatu sore aku duduk, termenung sendiri menatap luasnya langit yang kian hilang birunya. Matahari tak lagi terlihat dan segera turun digantikan bulan. Angin begitu tenang dan pelan bertiup membuat dedaunan yang kulihat bergoyang. Ternyata dedaunan itu begitu indah, ternyata dedauanan itu begitu menenangkan. Ia hanya diam, lalu bergoyang mengikuti arah angin meniupnya. Lalu ia kembali pada posisinya semula. Dalam diam ia membuat sekitarku begitu indah dan menyehatkan pandangan mata. Ia adalah salah satu mahluk yang memegang perkataan bahwa “diam adalah emas”. Betapa membuatku ingin sepertinya. Ia diam pun tetap begitu banyak yang menyukainya. Ia diam pun udara disekitarnya menjadi sejuk karnanya. Ia diam pun jutaan manusia suka dan merawatnya hingga ratusan tahun. Ia diam pun hijau khlorofilnya membuat keindahan pada sekitarnya. Ia diam pun menjadi rumah teduh bagi serangga – serangga dan jutaan semut lainnya. Jadilah ia mahluk yang kaya akan guna. Jadilah diamnya rasa nyaman untuk sekitarnya. Maka sore itu aku belajar sesuatu dari dedaunan. Maka sore itu aku mengucap syukur Ia menciptakan dedaunan beserta fungsi dan keindahannya.

embun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s